❄️ Apakah Gereja Itu Sama Dengan Organisasi Lain Di Masyarakat
NSaya berkenan tentu saja, tapi saya mungkin perlu menceritakan konteks setelah tadi saya membaca pertanyaan yang Romo kirimkan saya, kan memang saya tidak pernah menjadi peserta
2 Pengajaran para Bapa Gereja dan para Pujangga Gereja (Doctors of the Church), terutama St. Agustinus (354-430) melalui bukunya The City of God, yang mengatur pengajaran tentang manusia dan masyarakat; dan St. Thomas Aquinas (1225-1274), dengan bukunya, Summa Theologiae, di mana bagian yang terbesar dari Summa adalah Teologi moral/ Moral
Organisasinirlaba adalah suatu organisasi yang bersasaran pokok untuk mendukung suatu isu atau perihal di dalam menarik perhatian publik untuk suatu tujuan yang tidak komersial, tanpa ada perhatian terhadap hal-hal yang bersifat mencari laba (moneter). Organisasi nirlaba meliputi gereja, sekolah negeri, derma publik, rumah sakit dan klinik publik, organisasi politis, bantuan
Usulanmengubah praktik kuno selibat untuk meningkatkan jumlah pastor di daerah terpencil akan dibicarakan pada Sinode Vatikan bulan Oktober. Hal ini telah menjadi masalah pelik bagi Paus Fransiskus.. Berlangganan Login. Rabu, 8 Desember 2021 Bahasa Indonesia. English. Bahasa Indonesia.
GerejaKristus Di Indonesia (disingkat GKDI) adalah suatu organisasi gereja Kristen Protestan di Indonesia yang berpusat di Jakarta. "Gereja Kristus Di Indonesia" bergerak dalam aliran "non-denominasi" (yaitu tidak terikat pada denominasi Kristen manapun).. Sejarah "Gereja Kristus Di Indonesia" diawali pada tahun 1990.Total mission team yang dikirim ke Indonesia
denganorganisasi lain sehingga dikenal oleh masyarakat. Selain itu, organisasi non-profit harus berbeda dalam hal tujuan, misi, serta nilai dengan organisasi lain yang sejenis (Voeth, 2008). Hal ini diperkuat dengan studi yang menunjukkan bahwa menambah visibility dan reputasi adalah tantangan utama pada hampir 80% organisasi
AkhirZaman Dot Org persiapan untuk sebuah kesempatan terakhir 27.8 C
GerejaHarus Mengajari Umat-nya Prinsip-Prinsip Kehidupan Politik Yang Alkitabiah Walaupun gereja sendiri yakni secara organisasi tidak berpolitik, biasanya gereja akan menyerahkan hak politik kepada masing-masing umatnya, untuk itu gereja juga tidak bisa tidak sama sekali berhubungan dengan soal politik.
Dilihatdari nilai-nilai yang ada pada organisasi ini sesuai dengan semangat ideologi anarkisme yang memperjuangkan keadilan, kebebasan serta demokrasi. Awalnya basis gerakan hanya sebatas lokal
. Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. MENJADI GEREJA DI TENGAH MASYARAKAT MAJEMUKOleh Weinata SairinMemahami kemajemukan Gereja-gereja di Indonesia sebagian besar hidup ditengah masyarakat yang sangat majemuk. Dalam konteks itu penyadaran tentang kemajemukan menjadi amat penting sehingga sebuah format baru keberagamaan yang merespons realitas pluralitas, bisa dirajut dengan lebih baik. Jenderal Eddy Sudrajat 1998 memberi peringatan arif dalam konteks pluralisme keberagamaan di Indonesia, ketika ia berkata, “Ikatan sosial berupa agama tidak menutup kemungkinan untuk berubah bentuk menjadi arogansi kelompok yang dapat menciptakan disharmoni pada tingkat masyarakat. Terutama dalam masyarakat yang bersifat plural seperti Indonesia, fungsi agama sebagai pemersatu masyarakat harus diperlakukan dengan cara-cara tertentu agar tidak mengarahkan pemeluknya untuk mendominasi dan menegasikan kelompok atau pemeluk agama lain." Gereja tidak pernah berada dalam ruang yang steril dan hampa. Gereja adalah persekutuan yang diutus Tuhan untuk berkarya di tengah-tengah dunia. Gereja adalah persekutuan yang kreatif,dinamik visioner-misioner yang berada di tengah jalan, yang belum tiba di terminal yang terakhir. Sebab itu Gereja ada bukan untuk dirinya, ia ada untuk orang lain, Gereja bukan persekutuan yang eksklusif dan introvert, tapi komunitas yang terarah keluar dan tidak sibuk bagi dirinya dan Kemajemukan Gereja Kristen Pasundan GKP yang lahir tanggal 14 November 1934 adalah sebuah Gereja yang hadir dan bertumbuh di tengah-tengah realitas kemajemukan. Gereja-gereja di Indonesia amat paham bahwa realitas kemajemukan tak bisa ditolak dan tak bisa diratapi. Realitas itu mesti dihidupi. Selama 88 tahun GKP telah menjalani dan menghidupi kondisi itu. Gereja Kristen Pasundan pertama-tama adalah Gereja wilayah. Bukan gereja suku. Pemahaman ini menjadi penting sebab akan berkaitan erat dengan keanggotaan dan pendirian/aspek "ekspansi" Gereja wilayah dimaksudkan bahwa GKP hanya hadir dan berdiri di suatu wilayah tertentu. Dahulu di DKI Jakarta dan Jawa Barat. Kini DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten. Di Juar wilayah itu tidak boleh didirikan GKP. Jika ada warga GKP yang pindah ke wilayah lain di luar 3 wilayah itu maka mereka bisa mencari atau menjadi angota-anggota gereja lain "yang seajaran" atau Gereja-gereia anggota PGI lainnya. Selain itu GKP mesti memiliki concern terhadap wilayah di tempat ia diutus. Concern dalam arti memahami dengan baik pemetaan di wilayah itu dari segi demografis, agama, dan sebagainya dan mengembangkan hubungan dengan semua potensi yang ada di wilayah itu serta memberikan kontribusi optimal bagi pembangunan di wilayah itu. GKP terbuka untuk menerima anggota dari berbagai latar belakang suku dan denominasi, sesuai dengan persyaratan yang diatur dalam TG/PPTG GKP. Sebagai Gereja wilayah, maka GKP memiliki keanggotaan yang majemuk dari segi suku dan latar belakang. Sehubungan dengan itu, juga GKP melalui tata gerejanya memberi dorongan agar warga Gereja berperan aktif dalam kehidupan masyarakat,bangsa dan rumusan tata gerejanya secara normatif amat jelas bahwa GKP adalah sebuah Gereja yang terbuka dan yang mendorong warganya untuk memainkan peran signifikan dalam masyarakat majemuk Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD Negara RI 1945 Bahkan disebutkan GKP memiliki tanggung jawab untuk melaksanakan kesepakatan, ketentuan dan aturan-aturan yang dibangun atas dasar falsafah Pancasila dan UUD NRI 1945, berperan secara positif,kreatif kritis, dan realistis dalam memberi landasan moral, etik, dan spiritual bagi pembangunan masyarakat Pancasila. Secara gamblang peran GKP dalam masyarakat pernah dirumuskan dalam Rencana Kerja Dasar GKP yang berbunyi "menjadi gereja wilayah yang mandiri dan setia melaksanakan panggilannya membangun kehidupan yang berbudaya, berkeadilan, dan beribadah dalam keterbukaan kerja sama dengan Gereja lain dan masyarakat".Langkah ke DepanDi masa depan GKP harus benar-benar konsisten menampilkan diri sebagai Gereja yang diutus dan berkarya di tengah dunia. Penyadaran14 November 1934 tentang diksi diutus dan berkarya menjadi amat penting bagi GKP dalam merengkuh masa depannya. Bidang-bidang pelayanan yang ada Kesehatan, pendidikan, dan sosial, harus disinergikan sedemikian rupa agar menjadi potensi yang solid untuk menghadirkan syalom di tengah realitas kemajemukan Indonesia. Akses kepada pemerintah di berbagai aras pengembangan hubungan lintas agama, penyiapan SDM berkualitas, hubungan personal dengan tokoh-tokoh kunci di berbagai aras menjadi suatu kebutuhan yang tak bisa diremehkan. Kepekaan terhadap konteks, kemampuan untuk membangun relasi, jejaring, dan kecermatan untuk memetakan kondisi sekitar merupakan kewajiban yang tidak bisa ditunda. Dengan mengembangkan hal itu, GKP akan makin bertumbuh dan bermakna bagi dunia. Tri wawasan GKP yang sejak tahun 1989-an dipopulerkan menjadi titik tolak dan nada dasar gerak pelayanan GKP Wawasan ke-GKP-an, wawasan oikoumenis, dan wawasan kebangsaan harus benar-benar dijabarkan dan diimplementasikan konsisten dalam program dan bahkan harus menjadi pemandu warga GKP dalam menjalankan kehidupannya sebagai warga Gereja di Kata Seluruh warga GKP bahkan Gereja-gereja di Indonesia menaikkan puji dan syukur kepada Tuhan, Raja dan Kepala Gereja yang selama 88 tahun setia menuntun perjalanan GKP melintasi zaman dengan berbagai hambatan,tantangan,ancaman dan gangguan HTAG. GKP kini harus makin berhikmat, visioner dan profesional menyongsong Satu Abad GKP dua belas tahun lagi. Masih banyak PR yang mesti dikerjakan terutama program pembinaan warga gereja agar mereka tetap survive sebagai anak-anak terang yang hidup di dunia Tri Wawasan GKP harus makin dikedepankan dalam aras praksis, selain itu Rasa Bangga terhadap GKP harus menjadi roh dan napas setiap warga jemaat GKP. Pada HUT GKP tahun 1985 Penulis ikut merumuskan 3 hal yang menjadi alasan dasar mengapa warga GKP harus memiliki rasa bangga terhadap GKP, yaitu GKP lahir tahun 1934 sebelum Indonesia merdeka, GKP termasuk Gereja tertua di Indonesia; GKP sangat oikoumenis, ia menjadi Gereja pendiri PGI, anggotanya dan pimpinannya amat majemuk; GKP hidup dan berkembang ditengah masyarakat yang memiliki kadar keagamaan yang amat kuatUsia 88 tahun yang dianugerahkan Tuhan kepada GKP harus disambut dengan rasa syukur yang meluap-luap dan tekad kuat untuk benar-benar menjadi Gereja Orang Samaria Yang Murah Hati, Gereja yang bermakna bagi Kemanusiaan, Pemajuan HAM dan Peradaban bagi keutuhan HUT ke-88 Gereja Kristen Pasundan!Jakarta, dikehangatan HUT 88 GKP14 November 2022. Lihat Puisi Selengkapnya
sasaran atau tujuan lainnya sebagaiman yang dikehendaki para pemilik. Sumber pendanaan organisasi ini berasal dari investor swasta, investor pemerintah, kreditor dan para anggota. 3. Quasi non profit organization Tujuan organisasi ini adalah menyediakan atau menjual barang dan atau jasa dengan maksud untuk melayani masyarakat dan memperoleh keuntungan surplus. Sumber pendanaan organisasi ini berasal dari investor pemerintah, investor swasta dan kreditor. 4. Pure non profit organization Tujuan organisasi ini adalah menyediakan atau menjual barang dan atau jasa dengan maksud untuk melayani dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sumber pendanaan organisasi ini berasal dari pajak, retribusi, utang, obligasi, laba BUMN, BUMD, hibah, sumbangan, penjualan aset negara dan sebagainya. Organisasi Gereja Pengertian Organisasi Gereja Gereja atau yang biasa disebut paroki termasuk dalam kategori organisasi nirlaba, karena memperoleh sumber daya yang dibutuhkan untuk melakukan berbagai aktivitas operasinya dari subangan para anggota umat dan para penyumbang lain yang tidak mengharapkan imbalan dalam bentuk apapun dari paroki tersebut. Paroki yang dalam hal ini termasuk Paroki Administratif, Stasi, Wilayah, Lingkungan, Kelompok Kategorial dan Unit Karya di Paroki sebagai salah satu organisasi gereja mempunyai karakteristik yang berbeda dengan organisasi yang lain berdasarkan PDDP KAS 2004, pasal 10-6. Perbedaan tersebut terutama terletak pada 1. Kepemilikan Seluruh assetkekayaan yang dimiliki, kepemilikannya berada di tangan Gereja sebagai Badan Hukum Gereja berdasarkan Regeling van de rechtpositie der kergenootscappen van Ned Indie peraturan kedudukan hukum Perkumpulan Gereja tahun 1927 No. 155, jo. 156 dan 532, serta Keputusan Menteri Agama RI no. 182 tahun 2003 tentang Susunan Hirarki Gereja Katolik di Indonesia. Oleh karena itu dalam segala aspek pengelolaannya harus tunduk pada hukum gereja dan keputusan Uskup sebagai representatif gereja Constitutio Apostolica ”Quod Cristus” 3 Januari 1961 dan bila dianggap perlu, Uskup dapat mengadakan supervisi dan pemeriksaan pengelolaan harta benda dan keuangan badan hukum yang dibawahinya KHK kan. 1276. 2. Tujuan Paroki diwujudkan terutama untuk menghadirkan Gereja sebagai Sakramen yaitu tanda dan sarana kesatuan mesra dengan Allah dan persatuan umat manusia LG 1. Sebagai tanda dan alat persekutuan, gambaran yang konkret dari Gereja adalah himpunan Umat Allah dalam berbagai tingkat hirarki. Pada hakikatnya hirarki himpunan Umat Allah adalah persekutuan dari paguyuban Umat Allah communion of communities yang di dalamnya terjalin solidaritas persaudaraan antar umat se-iman yang juga menjadi kesukaan bagi orang-orang lain Kis. 242-47. Gereja menjadi ungkapan solidaritas persaudaraan yang menjawab keprihatinan kehidupan sehari-hari dengan mengutamakan mereka yang terlupakan dan menderita bdk. LG 1 dan SRJ. 42. 3. Cara memperoleh dan menggunakan sumber daya bdk. KHK kan. 1260, 1284 § 2º4 dan º6 Sumber daya yang dibutuhkan, diperoleh dari sumbangan umat yang tidak mengharapkan imbalan apapun dan digunakan untuk melakukan aktivitas karya pastoral yaitu menyelenggarakan ibadat ilahi, pewartaan, pelayan amal kasih terutama kepada yang kecil, lemah, miskin dan tersingkir KLMT. Menurut Keuskupan Agung Semarang Pedoman Dasar Dewan Paroki, 2008 definisi Paroki adalah “Paroki adalah persekutuan paguyuban-paguyuban umat beriman sebagai bagian dari Keuskupan dalam batas-batas wilayah tertentu yang sudah memilik Pastor Kepala, yang berdomisili di Parokinya sendiri.” Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga, 2002, Paroki adalah daerah kawasan penggembalaan umat Katolik yang dikepalai oleh pastor atau imam. Skema Pelayanan Gereja
15 Kegiatan praksis dari teologi sosial sudah dilaksanakan tidak hanya dalam kehidupan jemaat pertama tetapi sebelum penyaliban Yesus. Teologi sosial ini telah dikembangkan pada saat Yesus mengembara bersama para murid-Nya. Berdasarkan hal ini, praksis teologi sosial kemudian terus dikembangkan secara teratur dan sistematis oleh gereja, sehingga hal itu dirangkum dalam tri tugas gereja yakni marturia bersaksi, koinonia bersekutu, dan diakonia melayani. 4 Tetapi praksis teologi sosial ini biasanya hanya menyentuh pelayanan manusia terhadap sesamanya manusia. Semua arah pelayanan gereja hanya ditujukan kepada sesama manusia antroposentris dan Allah teosentris. Karena itu satu kesadaran baru telah muncul dan berkembang pesat dalam cakrawala berpikir manusia, yakni bahwa lingkungan hidup atau ekologi dan alam ciptaan merupakan bagian yang utuh dalam risalah-risalah teologis, pemahaman dan penghayatan kerohanian umat manusia 5 sehingga gereja sebagai salah satu lembaga sosial dapat menjalankan fungsinya dengan baik. Gereja sebagai Lembaga Sosial Gereja adalah persekutuan orang-orang yang percaya kepada Kristus. Gereja memiliki lima model dalam melaksanakan tugas panggilannya. Dua dari lima itu adalah gereja dilihat sebagai institusi dan gereja sebagai pewarta. Gereja sebagai institusi merupakan pemahaman bahwa gereja dipandang sebagai suatu masyarakat yang cenderung untuk mengutamakan struktur kepemimpinan sebagai elemen formal dalam masyarakat. Pada dasarnya, pandangan ini mau menekankan aspek gereja sebagai sebuah lembaga yang di dalamnya ada struktur organisasi yang jelas dalam pembagian tugas dan kewajiban. Tugas dan tanggung jawab itu adalah untuk 4 Eka Darmaputera via Soegeng Hardiyanto, Pergumulan dalam pengharapan Teologi Sosial dan Gerakan Keesaan. BPK Gunung Mulia. 1999Jakarta, 132. 5 Amatus Woi, Menyapa Bumi, Menyembah Hyang Ilahi Tinjauan Teologis atas Lingkungan Hidup. Kanisius. 2008Yogyakarta, 13. 16 mengajar, menguduskan dan memimpin. Ketiga fungsi ini, merupakan pengarah bagi gereja khususnya orang-orang yang mendapatkan jabatan gerejawi untuk melakukan tugas itu dalam rangka mewujudkan kasih Tuhan di tengah-tengah kehidupan gereja. Penekanan penting dalam menjalankan tugas itu adalah melayani yakni menyalurkan ajaran dan rahmat Kristus sendiri. 6 Karena itulah, maka penting juga untuk melihat model gereja sebagai pewarta. Gereja sebagai pewarta menekankan pada SabdaFirman Tuhan. Menurut model ini, gereja dikumpulkan dan dibentuk oleh Sabda Allah. Misi gereja adalah mewartakan apa yang sudah didengar, diimani dan yang sudah diserahkan kepadanya untuk diwartakan. 7 Dalam tugasnya sebagai pewarta kebenaran, gereja tidak hanya menyentuh dan memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan iman saja, tetapi gereja juga memiliki hak dan kewajiban untuk bersuara dengan penuh wewenang atas masalah-masalah sosial, ekonomi dan sebagainya. Sebab bagaimana pun juga, gereja hidup di tengah-tengah masyarakat dengan persoalan sosial yang kompleks. 8 Dengan kenyataan seperti yang telah dijelaskan tersebut maka, ada beberapa alasan mengapa gereja melakukan intervensi terhadap masalah-masalah sosial yang terjadi, antara lain 9 1 Masalah-masalah sosial pada umumnya tidak dapat dirumuskan semata-mata dari segi teknis kenyataan-kenyataan sosial, ekonomi dan politik. Di dalamnya juga termuat masalah moral dan etika. Karena itu, iman Kristen diharapkan dapat menerangi suara hati dan memungkinkan orang Kristen untuk memenuhi kewajibannya dalam konteks historis tertentu dengan tetap memiliki keterbukaan terhadap yang transenden. 2 Masalah-masalah sosial pada umumnya kerap kali berasal dari kecenderungan manusia untuk mementingkan dirinya atau dalam istilah teologis, keberdosaan manusia. 6 Avery Dulles, Model-model Gereja. Nusa Indah. 1990Yogyakarta, 34-35. 7 Ibid., 73. 8 Ricardo Antoncich, Iman dan Keadilan Ajaran Sosial Gereja dan Praksis Sosial Iman. Kanisius. 1990Semarang, 17. 9 Ibid., 18. 17 Ketidakadilan sosial sebagaimana yang terjadi dalam bentuk jurang kaya-miskin, pemerasan manusia atas sesamanya, pengangguran, kemiskinan, perkosaan hak-hak kaum miskin, dan sebagainya. Ketidakadilan sosial ini juga yang dirasakan oleh lingkungan hidup. Hal ini terbukti dari perilaku manusia yang mengekploitasi lingkungan secara besar-besaran sehingga menimbulkan banyak masalah. Semua perilaku ini merupakan ungkapan dari situasi-situasi keberdosaan manusia. 3 Gereja prihatin terhadap akibat-akibat dari permasalahan sosial itu karena kondisi-kondisi hidup yang tidak layak merupakan kendala bagi keselamatan manusia. 4 Ajaran gereja tentang permasalahan sosial dan tanggapan umat Kristen terhadapnya merupakan bagian dari pandangan hidup Kristen. Namun, meskipun gereja berusaha untuk terlibat dalam melihat masalah-masalah sosial yang terjadi, tetapi bukan berarti bahwa keberadaan gereja menyediakan obat manjur untuk menyembuhkan penyakit atau luka-luka sosial yang ada. Ajaran sosial gereja bukanlah ideologi atau pun analisis sosial ilmiah, meski pun di dalamnya termuat analisis-analisis yang tajam atas masyarakat, negara dan manusia. Tugas gereja sebagai salah satu lembaga sosial adalah untuk memberikan tanggapan iman dan memberikan pengarahan tindakan iman bagi umat Kristiani dalam menghadapi masalah-masalah sosial yang ada, 10 termasuk di dalamnya masalah lingkungan hidup. Karena gereja merupakan bagian integral dari lembaga-lembaga sosial yang ada dan turut ambil bagian dalam tugas itu sehingga gereja memiliki kaitan yang erat dengan lembaga sosial lain dan sangat penting untuk menjalin kerja sama. Bahkan gereja juga perlu belajar dari lembaga sosial lainnya, dalam rangka mewujudkan terang kasih Tuhan ditengah- tengah kehidupan seluruh ciptaan melalui tindakan nyata praksis sebagai proses belajar seumur 10 Ricardo Antoncich, Iman dan Keadilan Ajaran Sosial Gereja dan Praksis Sosial Iman. 19. 18 hidup yang terintegrasi. Bagaimana pun juga, ketika gereja ingin terlibat dalam melihat dan merespon masalah-masalah sosial yang terjadi salah satunya masalah linkungan hidup, gereja sendiri perlu memperhatikan pertimbangan etis dari etika lingkungan, agar hal itu juga dapat memperlengkapi gereja lebih lagi dalam melaksanakan perannya tersebut. Etika Lingkungan
apakah gereja itu sama dengan organisasi lain di masyarakat